Perkembangan Terapi Kanker Payudara: Dari Terapi Target hingga Pengobatan yang Lebih Personal

-Update Farmakologi | Terapi Kanker Payudara-

Pengobatan kanker payudara terus mengalami perkembangan pesat, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Kemajuan dalam biologi molekuler, identifikasi biomarker, serta pengembangan obat-obatan baru telah membuka peluang terapi yang semakin spesifik sesuai karakteristik tumor masing-masing pasien.

Sebuah artikel bertajuk “Advances in Systemic Treatment of Breast Cancer” yang dipublikasikan melalui The New England Journal of Medicine (NEJM) menyoroti perkembangan penting dalam terapi sistemik kanker payudara. Sejak tahun 2020, terdapat 17 terapi target yang memperoleh persetujuan baru atau perluasan indikasi pada berbagai subtipe biologis kanker payudara.

Perkembangan ini menunjukkan pergeseran pendekatan pengobatan dari terapi yang relatif seragam menuju personalized medicine, yaitu pemilihan terapi berdasarkan karakteristik molekuler tumor, biomarker, dan kondisi klinis pasien.

Terapi Target Berdasarkan Karakteristik Kanker Payudara

Kanker payudara bukan merupakan satu penyakit yang homogen. Berdasarkan ekspresi reseptor hormon dan HER2, kanker payudara memiliki beberapa subtipe biologis yang memerlukan pendekatan terapi berbeda.

1. Kanker Payudara dengan Reseptor Hormon Positif (HR-Positive)

Pada kanker payudara dengan reseptor hormon positif, terapi endokrin tetap menjadi komponen penting pengobatan. Penggunaan cyclin-dependent kinase 4/6 (CDK4/6) inhibitors, seperti palbociclib, ribociclib, dan abemaciclib, telah memperkuat strategi penghambatan proliferasi sel kanker. Selain itu, perkembangan obat yang bekerja pada jalur PI3K/AKT/mTOR, seperti alpelisib, inavolisib, capivasertib, dan everolimus, memberikan pilihan tambahan pada pasien dengan karakteristik molekuler tertentu, terutama ketika terjadi resistensi terhadap terapi endokrin.

Golongan selective estrogen receptor degraders (SERDs), termasuk fulvestrant dan beberapa agen oral yang lebih baru, juga menjadi bagian penting perkembangan terapi yang menargetkan reseptor estrogen.

2. Kanker Payudara HER2-Positive

Pada kanker payudara HER2-positif, terapi target mengalami kemajuan signifikan melalui pengembangan antibodi monoklonal dan antibody–drug conjugates (ADCs). Obat seperti trastuzumab dan pertuzumab bekerja dengan menargetkan HER2, sedangkan ADC seperti trastuzumab deruxtecan menggabungkan kemampuan antibodi mengenali target dengan penghantaran agen sitotoksik ke sel kanker.

Trastuzumab deruxtecan menjadi salah satu perkembangan penting karena menunjukkan peningkatan luaran klinis dan mulai digunakan pada tahapan terapi yang lebih awal untuk kelompok pasien tertentu.

3. Triple-Negative Breast Cancer (TNBC)

Kanker payudara triple-negative merupakan subtipe yang tidak mengekspresikan reseptor estrogen, progesteron, maupun HER2 sesuai kriteria diagnostik. Perkembangan immune checkpoint inhibitors, terutama obat yang menargetkan jalur PD-1/PD-L1, telah memperluas pilihan terapi melalui peningkatan respons imun terhadap sel kanker.

Selain imunoterapi, ADC seperti sacituzumab govitecan juga memberikan manfaat pada kanker payudara stadium lanjut. Namun, perannya dalam pengobatan dengan tujuan kuratif masih terus diteliti.

Memahami Mekanisme Kerja Obat

Dari perspektif farmakologi, perkembangan ini menarik karena menunjukkan semakin beragamnya target molekuler yang dapat dimanfaatkan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker.

Beberapa mekanisme utama meliputi:

* Penghambatan sinyal pertumbuhan sel, melalui target HER2 dan jalur PI3K/AKT/mTOR.
* Penghambatan siklus sel, melalui CDK4/6 inhibitors.
* Modulasi aktivitas hormonal, melalui terapi endokrin dan penghambatan reseptor estrogen.
* Peningkatan respons imun antitumor, melalui immune checkpoint inhibitors.
* *Penghantaran obat sitotoksik secara lebih terarah*, melalui antibody–drug conjugates.
* Penghambatan perbaikan DNA, melalui PARP inhibitors seperti olaparib dan talazoparib pada kelompok pasien yang memenuhi kriteria molekuler tertentu.

Setiap pendekatan memiliki indikasi, efektivitas, dan profil keamanan yang berbeda. Oleh karena itu, pemilihan obat tidak hanya mempertimbangkan subtipe kanker, tetapi juga stadium penyakit, biomarker, riwayat pengobatan, kondisi pasien, dan bukti klinis yang tersedia.

Tantangan dan Arah Pengembangan

Meskipun pilihan pengobatan semakin luas, sejumlah tantangan masih perlu diatasi, antara lain menentukan urutan terapi yang optimal, mengidentifikasi biomarker prediktif yang lebih akurat, mengatasi resistensi obat, serta memperluas akses terhadap terapi inovatif.

Pemanfaatan circulating tumor DNA (ctDNA) juga menjadi salah satu pendekatan yang terus dikembangkan untuk mendukung pemantauan penyakit dan pengambilan keputusan klinis.

Di sisi lain, perkembangan obat baru perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai efek samping, interaksi obat, dan pemantauan keamanan terapi. Sebagai contoh, ADC dapat menimbulkan toksisitas yang berbeda sesuai komponen obatnya, sedangkan penghambat jalur pensinyalan tertentu memiliki efek samping khas yang memerlukan pemantauan.

Refleksi Farmakologi

Perkembangan terapi kanker payudara ini mengingatkan bahwa farmakologi terus bergerak seiring kemajuan ilmu biologi molekuler dan kedokteran presisi.

Bagi saya, hal yang menarik bukan hanya semakin banyaknya obat baru, tetapi juga bagaimana pemahaman mengenai mekanisme kerja obat dapat diterjemahkan menjadi keputusan terapi yang lebih tepat bagi pasien.

Kemajuan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya pembelajaran farmakologi yang terus diperbarui, baik bagi mahasiswa kedokteran, tenaga kesehatan, maupun peneliti.

Masa depan terapi kanker tidak semata-mata tentang menemukan obat baru, tetapi juga memastikan obat yang tepat diberikan kepada pasien yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan mempertimbangkan efektivitas dan keamanannya.

*Sumber bacaan:*
The New England Journal of Medicine (NEJM). “Advances in Systemic Treatment of Breast Cancer.”

Catatan: Artikel ini bertujuan untuk edukasi dan pembaruan informasi farmakologi, bukan sebagai panduan pemilihan terapi individual. Keputusan pengobatan harus berdasarkan evaluasi klinis dan pedoman terapi terkini

Mengawali Amanah Baru: Pelantikan Pengurus IKAFARI Cabang Medan Periode 2026–2030

Pelantikan Pengurus Ikatan Farmakologi Indonesia (IKAFARI) Cabang Medan periode 2026–2030, Sabtu, 10 Oktober 2026, bertempat di Aula lantau 4 FK USU, Medan,  menjadi momentum penting untuk mengawali perjalanan kepengurusan baru sekaligus memperkuat komitmen dalam pengembangan ilmu farmakologi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kepengurusan periode ini menghadirkan kolaborasi akademisi dan praktisi dari berbagai institusi, dengan latar belakang keilmuan kedokteran, kedokteran gigi, dan farmasi. Keberagaman tersebut menjadi kekuatan untuk membangun sinergi lintas disiplin sekaligus memperluas kontribusi farmakologi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan.
Bagi saya, menerima amanah sebagai Ketua IKAFARI Cabang Medan periode 2026–2030 merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab. Kepemimpinan bukan semata-mata tentang posisi, melainkan tentang kesempatan untuk belajar, mendengarkan, membangun kolaborasi, dan bertumbuh bersama.
Saya meyakini bahwa organisasi profesi dan keilmuan akan berkembang melalui keterlibatan aktif seluruh anggotanya. Oleh karena itu, kepengurusan ini diharapkan menjadi ruang yang inklusif bagi para akademisi, peneliti, praktisi, serta generasi muda farmakologi untuk berbagi pengetahuan, mengembangkan gagasan, dan menghasilkan karya bersama.


Beberapa arah pengembangan yang diharapkan dapat diperkuat meliputi peningkatan kualitas pendidikan farmakologi, pengembangan penelitian kolaboratif, penguatan literasi penggunaan obat yang rasional, serta perluasan jejaring kerja sama nasional dan internasional. Keterlibatan mahasiswa dan peneliti muda juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pengembangan farmakologi.
Apresiasi dan terima kasih kepada Pengurus Besar IKAFARI, Dewan Penasihat, seluruh jajaran pengurus, serta para sejawat yang telah memberikan kepercayaan dan dukungan. Penghargaan juga disampaikan kepada kepengurusan sebelumnya atas dedikasi dan kontribusi yang telah diberikan.
Pelantikan ini bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan awal dari proses belajar dan bekerja bersama. Semoga amanah ini dapat dijalankan dengan integritas, semangat kebersamaan, dan komitmen untuk menghadirkan program yang bermanfaat serta berkelanjutan.
Bersama, kita tumbuh, berkolaborasi, dan berkarya. Dari kontribusi lokal menuju jejaring dan dampak global.
Tri Widyawati
Ketua IKAFARI Cabang Medan 2026–2030

Belajar, Berproses, dan Berani Tampil: Semangat Adlin di WECOC 2026

Muhammad Adlin Aziz Lubis, mahasiswa semester 3 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) sekaligus Presiden FarmakoNesia Club, berpartisipasi sebagai presenter poster ilmiah dalam The 38th Weekend Course on Cardiology (WECOC) 2026 yang berlangsung pada 8–10 Oktober 2026 di Jakarta.
Dalam kegiatan tersebut, Adlin mempresentasikan penelitian berjudul “Network Pharmacology and In Silico ADMET Profiling of Putatively Annotated Cepharanthine in Anredera cordifolia (Binahong) Leaf Water Extract for Heart Failure.” Penelitian ini mengeksplorasi potensi senyawa yang teranotasi secara tentatif sebagai cepharanthine dari ekstrak air daun binahong melalui pendekatan network pharmacology dan analisis in silico ADMET dalam kaitannya dengan gagal jantung.
Ada hal yang menarik dari perjalanan Adlin mempersiapkan penelitian ini. Sebagai mahasiswa yang masih berada di semester 3, ia menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Prosesnya dimulai dari mempelajari analisis network pharmacology bersama Farisah Ardiyanti, mendiskusikan dan memahami hasil penelitian, hingga mempersiapkan materi serta poster untuk dipresentasikan dalam forum ilmiah.
Sebagai dosen pembimbing, saya sangat mengapresiasi semangat dan kesungguhannya dalam menjalani setiap tahapan tersebut. Keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru, kemauan belajar, dan ketekunan dalam menyelesaikan proses penelitian merupakan pengalaman berharga yang tidak selalu dapat diukur melalui penghargaan.
Bagi saya, Adlin sudah menjadi juara melalui semangat belajar, keberanian, dan kesediaannya untuk terus berproses.


Keikutsertaannya dalam WECOC 2026 bukan hanya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hasil penelitian, tetapi juga pengalaman dalam membangun kepercayaan diri, mengembangkan kemampuan komunikasi ilmiah, dan memperluas wawasan sejak dini.
Semoga pengalaman ini menjadi motivasi bagi Adlin untuk terus belajar dan berkarya, sekaligus menginspirasi anggota FarmakoNesia Club lainnya untuk berani mengambil kesempatan, mengembangkan rasa ingin tahu, dan bertumbuh melalui penelitian.
Selamat, Adlin! Terus belajar, tetap rendah hati, dan nikmati setiap prosesnya. Masih banyak kesempatan dan pengalaman berharga yang menanti.

Tiga Kongres Dunia, Lima Pelajaran dari Jejaring Farmakologi Global

Guru Besar Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU), Prof. dr. Tri Widyawati, M.Si., Ph.D., yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Magister Kedokteran Klinis (MKK) FK USU, membagikan refleksi perjalanan akademiknya mengikuti tiga World Congresses of Pharmacology, yaitu Kyoto 2018, Glasgow 2023, dan Melbourne 2026.
Refleksi tersebut dituangkan dalam artikel berjudul “One Question, Five Lessons from Three World Congresses of Pharmacology” yang dipublikasikan melalui Pharmaco Corner, blog resmi American Society for Pharmacology and Experimental Therapeutics (ASPET), melalui platform Medium. ASPET merupakan organisasi ilmiah internasional di bidang farmakologi dan eksperimental terapeutik yang berbasis di Amerika Serikat.
Dalam tulisan tersebut, Prof. Tri merangkum perjalanan dari tiga kongres dunia menjadi lima pelajaran penting, yaitu curiosity, confidence, communication, leadership, dan mentorship.


Kelima nilai tersebut menggambarkan bahwa perjalanan seorang akademisi tidak hanya dibangun melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Keberanian untuk bertanya, menyampaikan gagasan, berkomunikasi dengan komunitas ilmiah, membangun jejaring, mengambil peran kepemimpinan, serta mendampingi generasi berikutnya juga menjadi bagian penting dalam perkembangan akademik.
Salah satu pesan utama dari refleksi tersebut adalah bahwa menjadi bagian dari komunitas ilmiah global bukan tentang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang sempurna, tetapi tentang keberanian untuk bertanya, berbagi gagasan, berdiskusi, serta membuka peluang kolaborasi.
Pengalaman pada WCP 2026 di Melbourne semakin memperkuat pesan tersebut. Selain mempresentasikan hasil penelitian, Prof. Tri mengikuti berbagai kegiatan ilmiah dan jejaring internasional, termasuk keterlibatan dalam IUPHAR General Assembly. Pengalaman ini menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring sekaligus meningkatkan keterlibatan komunitas farmakologi Indonesia dalam forum internasional.
Aspek mentorship juga mendapat perhatian khusus. Kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat dan mempresentasikan penelitian dalam forum internasional menjadi pengalaman penting dalam membangun kepercayaan diri, kemampuan komunikasi ilmiah, serta wawasan global generasi muda. Bagi Prof. Tri, perjalanan akademik tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi perlu diteruskan dengan membuka jalan bagi generasi berikutnya.

Publikasi ini mencerminkan komitmen FK USU dalam mendukung pengembangan kapasitas akademik, internasionalisasi, serta keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam jejaring ilmiah global. Kegiatan tersebut turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 – Quality Education melalui penguatan kapasitas dan pengembangan generasi muda, serta SDG 17 – Partnerships for the Goals melalui penguatan jejaring dan kolaborasi ilmiah internasional.
Artikel selengkapnya, “One Question, Five Lessons from Three World Congresses of Pharmacology,” dapat dibaca melalui ASPET Pharmaco Corner:
https://medium.com/@pharmacocorner/one-question-five-lessons-from-three-world-congresses-of-pharmacology-3a7684445516